Senin, 02 Januari 2012

Putin Sebut AS di Balik Unjuk Rasa Oposisi

Perdana Menteri Vladimir Putin menuduh Amerika Serikat (AS) memicu aksi unjuk rasa yang rusuh terkait dengan pemilihan parlemen Rusia. Putin menyebut kritik dari Menteri Luar Negeri Hillary Clinton telah memberi petunjuk agar lawan Kremlin melakukan unjuk rasa.

"Dia telah menetapkan nada untuk beberapa angka di dalam negeri, memberi petunjuk. Mereka mendengar petunjuk itu dan dengan dukungan Kementerian Luar Negeri AS mulai bekerja secara aktif," tuturnya di Moskow, Jumat (9/12).

Menurut Putin, Rusia menghargai hak untuk melakukan aksi unjuk rasa di jalanan, tapi ada undang-undang yang harus dipatuhi. "Jika seorang melanggar hukum maka pihak berwenang dan penegak hukum akan menegaskan undang-undang diterapkan melalui semua cara yang sesuai hukum."

"Namun kami juga tahu orang-orang di negara kami tidak ingin situasi berkembang menjadi seperti di Kirgistan atau Ukraina beberapa waktu lalu. Tidak ada yang mengingingkan kekacauan," tambahnya.

Unjuk rasa marak di beberapa kota di Rusia setelah tim pemantau dari Uni Eropa (OSCE) dan partai oposisi menyimpulkan terjadi kecurangan dalam pemilihan parlemen pada Ahad (4/12) lalu. Hal itu yang condong menguntungkan partai berkuasa pimpinan Putin, Rusia

Pihak berwenang membubarkan unjuk rasa dengan paksa dan ratusan demonstran, termasuk beberapa tokoh oposisi, ditangkap. Menilai kondisi tersebut, mantan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev sudah meminta secara terbuka agar digelar pemilihan ulang.

Hasil sementara menunjukkan Partai Rusia Bersatu meraih suara terbanyak. Namun dengan hasil tidak sebaik pada pemilu sebelumnya, ketika partai itu mencapai mayoritas dua pertiga kursi di parlemen.

Sebelumnya, Vladimir Putin secara resmi sudah mendaftar untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden pada Maret 2012. Dia juga sudah menunjuk sutradara terkenal Rusia, Stanislav Govorukhin, sebagai ketua tim kampanye.

Para pengamat mengatakan peluang Putin untuk kembali menjabat presiden tampaknya tidak sekuat sebelum berlangsungnya pemilihan parlemen. Namun, Putin masih memiliki dukungan yang kuat untuk menang dalam pemilu presiden.

Dia menjabat presiden untuk dua periode pada masa 2000-2008. Karena konstitusi tidak memungkinkan periode jabatan ketiga secara berturut-turut, Putin kemudian menjadi perdana menteri.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © . RALEOPA_Q - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger