Jumat, 06 Januari 2012

Kasus HIV/AIDS di Bali Melonjak

Kasus HIV/AIDS menunjukkan lonjakan yang cukup tajam di Bali. Karenanya, perlu penanganan yang lebih serius dari semua pihak.

"Di dunia sedang menurun. Sebut saja Amerika Serikat dan Australia. Tapi di Bali, justru meningkat," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Daerah (KPAD) Bali Made Suprapta di Denpasar, Sabtu (24/12).

Saat menggelar pertemuan dengan sejumlah wartawan peduli AIDS, ia mengatakan, penurunan HIV/AIDS di dua negara itu, karena telah mampu mendata kasus HIV/AIDS. Sehingga grafiknya stagnan dan belakangan cenderung menurun.

Sementara di Bali, dari data yang dimiliki setiap bulannya 30 orang justru terjangkit virus mematikan itu. "Rata-rata 30 orang terjangkit tiap bulannya. Ini harus dipikirkan secara bersama, khususnya oleh industri media yang memainkan peranan sosialisasi 75 persen atas hal ini," katanya.

Data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, mulai Januari hingga September 2011 menunjukkan sebanyak 15.589 kasus baru HIV.

Tertinggi pada kelompok usia 25-49 tahun 11.485 kasus, diikuti kelompok usia 20-24 tahun 2.338 kasus, sedangkan kurang dari empat tahun sebanyak 420 kasus. Dari jumlah itu, pengidap laki-laki sebesar 68,4 persen, sementara pengidap perempuan sebesar 31,6 persen.

Kasus HIV dengan proporsi kumulatif 10 provinsi terbesar adalah DKI Jakarta 3.401 kasus, Papua 2.044 kasus, Jawa Timur 1.872 kasus, Bali 1.141 kasus, Jawa Barat 939 kasus, Sumatra Utara 919 kasus, Jawa Tengah 877 kasus, Kepulauan Riau 464 kasus, Sulawesi Selatan 462 kasus dan Kalimantan Barat 422 kasus.

Sementara untuk pengidap AIDS mulai Januari-September 2011 sebanyak 1.805 kasus. Proporsi kumulatif kasus AIDS sejak 1987-2011 tertinggi pada kelompok usia 20-29 tahun 45,9 persen, usia 30-39 tahun 31,1 persen, usia 40-49 tahun 9,9 persen.

Proporsi tahun 2011, usia 30-39 tahun sebanyak 33,2 persen, usia 20-29 tahun 30,9 persen, usia 40-49 tahun 13,9 persen. Data sejak 1987-2011 lebih tinggi laki-laki pengidap AIDS yakni, 71 persen dibanding perempuan 28 persen. Tahun 2011, laki-laki pengidap AIDS sebesar 61,9 persen, sementara perempuan 34 persen.

Data pengidap AIDS sejak 1987-2011 jumlah terjangkit lebih banyak wiraswasta yakni sebanyak 3.473 kasus, sedangkan 2011 pada ibu rumah tangga 288.

Secara kumulatif, AIDS 1987-2011, Jawa Timur 4.318 kasus, Papua 4.005 kasus, DKI Jakarta 3.998 kasus, Jawa Barat 3.804 kasus, Bali 2.331 kasus, Jawa Tengah 1.315 Kasus, Kalimantan Barat 1.125 kasus, Sulawesi Selatan 726 kasus, DI Yogyakarta 538 kasus, Sumatera Utara 509 kasus.

Jumlah 10 provinsi terbanyak pengidap AIDS adalah Jawa Tengah 373 kasus, Papua 299 kasus, Bali 279 kasus, Jawa Timur 239 kasus, Sulawesi Selatan 129 kasus, Jawa Barat 76 kasus, Sulawesi Utara 74 kasus, Papua Barat 71 kasus, NTB 44 kasus dan Sumatera Selatan 41 kasus.

Persoalan klasik meningginya kasus tersebut di Bali, kata Suprapta, adalah minimnya informasi tentang penyakit tersebut. Untuk itu ia berharap di tahun 2012 pemerintah daerah menyatakan komitmennya untuk menghentikan munculnya kasus-kasus baru tersebut.

"Semua pihak harus terlibat aktif untuk menjelaskan kasus ini. Banyak juga ketidaktahuan terhadap penyakit ini, menyebabkan di beberapa daerah, jasad orang terjangkit dibiarkan begitu saja dengan alasan takut tertular," katanya.

Menurut dia, ini informasi keliru yang mesti dibenahi, sembari menyebarkan tentang penularan penyakit ini, agar tidak terus bertambah.

"Sosialisasi kepada masyarakat agar terus digencarkan. Adanya dikotomi bahwa penyakit HIV/AIDS hanya di perkotaan saja adalah pandangan yang salah, justru penyakit ini sudah merambah sampai ke desa-desa," katanya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © . RALEOPA_Q - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger