Rabu, 14 Desember 2011

Sang Pencerah; Membaca Bagian Sejarah yang Hilang

Sewaktu belajar Pergerakan Nasional di sekolah dulu, saya tidak pernah berpikir bahwa organisasi Muhammadiyah berkaitan erat dengan aliran Muhammadiyah yang sering dibicarakan di lingkungan saya. Sebabnya, dalam pelajaran Sejarah hanya diperkenalkan profil organisasi umumnya seperti kapan berdiri, siapa yang mendirikan, dan apa kegiatannya. Saya nyaris menganggap organisasi Muhammadiyah itu hanya sejarah. Saat kuliah dan mememiliki teman yang kebetulan bergabung dalam Ikatan Remaja Muhammadiyah barulah saya tahu bahwa dua hal itu berhubungan. Saya tahu bahwa organisasi Muhammadiyah masih beroperasi dengan mantap di tanah air ini dengan prioritas pendidikan dan kesehatannya.
Meski demikian, saya punya persepsi yang sedikit keliru mengenai Muhammadiyah yang dibangun oleh penjelasan-penjelasan orang dewasa di sekitar saya. Sepengenalan saya Muhammadiyah merupakan sebuah aliran yang nyeleneh, yang mempunyai ciri-ciri di tata caranya yang khusus. Beberapa stereotip yang menempel di Muhammadiyah diantaranya tidak melakukan doa Qunut saat salat Subuh, lipatan tangan di jantung (bukan di perut) ketika salat, dan biasa lebaran terlebih dahulu. Persepsi tersebut hingga sekarang masih melekat di lingkungan rumah saya.
Menonton Sang Pencerah sedikit banyak membantu saya memahami kembali tentang Muhammadiyah. Tadinya, saya mengenal Muhammadiyah hanya sebagai salah satu organisasi pergerakan nasional atau aliran islam yang nyeleneh. Kini saya melihat Muhammadiyah sebagai organisasi yang patut diapresiasi dan diacungkan jempol karena kehadirannya yang nyata membawa perubahan di Indonesia khususnya ajaran Islam. Saya memuji Hanung Brahmantyo yang bisa mengenalkan Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah dengan cerita yang tidak hanya membuka mata namun sarat untuk dicintai.
Meski tidak tertarik dengan judulnya (menurut saya berasosiasi keBudha-budhaan atau kebayclin-bayclinan) entah mengapa saya punya dorongan yang besar untuk menonton film ini. Tanpa melihat lagi sinopsinya, hanya dari twitt beberapa teman, akhirnya saya memutuskan menontonnya di hari ke-4 Lebaran. Film ini dibuka dengan kisah manis percintaan yang menyentil sehingga membuat kita tertarik mengetahuinya lagi. Berikut-berikutnya, banyak adegan yang serius dan islami, yang mungkin bisa membuat bosan kalau berlama-lama. Adegan yang membuat saya terbetot ke dalam film ini adalah ketika Ahmad Dahlan mulai mengenalkan beberapa pemahaman baru tentang Islam. Membayangkan hidup di zaman itu, saya bisa merasakan betapa mencekamnya suasana ketika hal baru diperkenalkan dan bentrok dengan ajaran lama. Menyamakannya dengan zaman sekarang, Ahmad Dahlan seperti hidup di dalam rombongan FPI yang siap menghujamnya dengan  tuduhan kafir.
Bagian yang paling saya suka adalah ketika Ahmad Dahlan memainkan biola. Saat itu seorang muridnya bertanya “apa itu agama?”. Saya merinding mendengar alunan biola tersebut. Saya rasa bukan hanya karena gesekan biolanya, namun saat dia menggesekan biola saya langsung paham bagaimana agama seharusnya. Merepresentasikan agama sebagai musik sungguh luar biasa, penjelasan yang sederhana, mudah dipahami, dan bermakna dalam.
Selanjutnya Sang Pencerah menceritakan bagaimana Ahmad Dahlan berjuang mempertahankan apa yang dipercayainya dan belajar untuk mewujudkan apa yang dipercayainya. Ahmad Dahlan digambarkan sebagai sosok yang membuka diri dengan perkembangan zaman. Di sinilah nilai lebih film sang Pencerah kebanding buku-buku Sejarah Nasional. Dalam film ini, kita diperkenalkan dengan Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah secara dalam, tidak seseorang yang menjadi pahlawan dengan organisasi besarnya. Dalam film ini, Ahmad Dahlan diperkenalkan sebagai sosok yang gigih namun tidak lepas dari fitrahnya sebagai manusia, yang juga bisa merasa gagal dan menyerah. Membaca sejarah Muhammadiyah di Sang Pencerah tidak lagi berisi fakta tanggal dan tempat, melainkan memahami bahwa sejarah merupakan satu proses panjang yang dilalui pelakunya. Dari proses panjang inilah kita bisa belajar banyak tentang sejarah itu sendiri.
Bagian akhir film ini, justru membuat saya bisa mengerti apa yang menyebabkan persepsi saya tentang Muhammadiyah selama ini. Meski di bagian akhir, Kyai Penghulu Kamaludiningrat akhirnya mengizinkan Ahmad Dahlan meneruskan perjuangan Muhammadiyah, namun saya melihat Beliau sesungguhnya tidak menyarankan jamaahnya bergabung. Muhammadiyah diakui dan dilegalkan namun secara implisit tidak disarankan. Hal ini diperkuat juga dengan adegan di mana ketika anak Kyai Noor (kakak Ahmad Dahlan) ditanya anak perempuan (saya duga cucunya) di bagian akhir yang bertanya “siapa Ahmad Dahlan, Pak?”. Kyai Noor dengan sedikit berat menjelaskan dan berkata, “dia kakekmu juga”. Kyai Noor sepenuhnya bangga dengan Ahmad Dahlan namun tidak mau mengikuti pemikirannya. Di sini terlihat sekali bahwa hubungan Ahmad Dahlan dan Kyai Noor sudah semakin jauh, setelah beberapa konflik yang diceritakan di Sang Pencerah. Dan begitulah persepsi tentang Muhammadiyah berkembang di lingkungan saya sewaktu kecil. Muhammadiyah adalah Islam yang diakui namun tidak disarankan untuk diikuti, karenanya diberi stereotip-stereotip artifisial yang jauh dari perjuangan Muhammadiyah sendiri. Beruntunglah saya menonton Sang Pencerah, kini saya tidak lagi menganggap Muhammadiyah sebagai orang lain. Muhammadiyah yang dilahirkan Ahmad Dahlan dengan gerakannya yang nyata di bidang pendidikan dan kesehatan bagi rakyat Indonesia, juga merupakan milik saya dan seluruh masyarakat Indonesia. Semoga Muhammadiyah bisa terus membawa jiwa Ahmad Dahlan yang membaca pencerahan di Indonesia.

sumber: http://omemdisini.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © . RALEOPA_Q - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger