Minggu, 25 Desember 2011

Polda NTB Tetapkan 47 Tersangka Kerusuhan Bima

Polisi telah menetapkan sebanyak 47 tersangka dari 54 demonstran yang sempat ditangkap dalam kasus bentrokan berdarah di Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (24/12) kemarin.

"Dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan secara maraton, kami telah menetapkan 47 tersangka dalam kasus demo dengan memblokade Pelabuhan Sape hingga menyusul jatuhnya korban jiwa," kata Kapolda NTB Brigadir Jenderal Polisi Arief Wahyunadi saat melakukan inspeksi di Pelabuhan Sape, di ujung timur Pulau Sumbawa, Ahad (25/12).

Kepada para tersangka, lanjut Arief, polisi akan menjerat mereka dengan undang-undang darurat dan undang-undang tentang gangguan ketertiban umum.

Sementara, terhadap tujuh orang yang lain, yang sebelumnya sempat diamankan petugas pascaaksi bentrok berdarat antara para demonstran dengan petugas, Arief mengatakan sejauh ini baru ditetapkan sebagai saksi. Dari hasil pemeriksaan pendahuluan, ketujuh orang tersebut hanya ikut-ikutan dan tidak terbukti membawa senjata tajam saat melancarkan demo dengan penutup akses jalan menuju Pelabuhan Sape sejak 19 Desember lalu.

Selain telah menetapkan sejumlah tersangka, polisi juga sedang memburu pelaku pembakaran fasilitas umum seperti Mapolsek dan Kantor Camat Lambu, serta beberapa rumah milik warga setempat.

"Laporan tentang pembakaran fasilitas umum tersebut kini sedang disusun, namun kami masih kesulitan untuk secepatnya dapat menangkap para pelakunya yang sebagian besar tinggal di pelosok desa," ucapnya.

Arief menyebutkan, pelaku aksi perusakan tersebut sejauh ini sebagian besar berasal dari Desa Sumi. "Kami belum saatnya untuk bisa masuk ke desa itu sekarang," katanya sembari mengingatkan kepada para wartawan untuk tidak memasuki Desa Sumi, karena informasi yang didapat desa tersebut masih tegang.

Sementara mengenai jumlah korban, Arief mengatakan ada 12 korban. Dua di antaranya tewas, dan dua lainnya kini masih menjalani perawatan di RSU Provinsi NTB di Mataram.

Sementara di RSUD Bima, dilaporkan kini sedang dilakukan autopsi terhadap dua korban tewas pada bentrokan berdarah kemarin. Petugas menyebutkan, kedua jenazah korban menurut rencana secepatnya diambil pihak keluarga untuk dimakamkan pada Senin (26/12).

Ditanya tentang kemungkinan kedua korban tewas setelah terkena peluru tajam, Kapolda Arief dengan tegas membantahnya. Dalam operasi pembubaran paksa para demonstran yang telah lima hari menduduki Pelabuhan Sape, kata dia, polisi hanya menggunakan peluru karet.

"Sebelum terjadi penyerangan itu, kami sudah melakukan beberapa kali tembakan peringatan, namun warga tetap meringsek dan tidak mau segera membubarkan diri," katanya.

Ia mengatakan, pembubaran paksa tersebut harus dilakukan sehubungan aksi para demonstran telah mengakibatkan jalur ekonomi antarpulau lumpuh.

Tidak hanya itu, akibat aksi tersebut telah menyebabkan beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur mengalami kesulitan dalam memperoleh kebutuhan yang harus didatangkan dari daerah lain melalui Pelabuhan Sape, ujarnya.

Kapolda juga membantah adanya penambahan pasukan Brimob yang berasal dari luar daerah NTB. "Seluruh personel Brimob yang melakukan penjagaan di Pelabuhan Sape dan sekitarnya, murni personel Brimob Polda NTB," ucapnya menandaskan.

Dikatakan, tugas anggota Polisi adalah untuk menjaga ketertiban, dan adanya banyak anggota polisi di tempat ini juga untuk menjaga ketertiban dan keamanan, tidak yang lainnya.

Kapolda menyebutkan bahwa pihaknya belum punya rencana menarik pasukan yang belakangan ini disiagakan di daerah Sape sebelum suasana benar-benar kembali kondusif.

Petugas dalam jumlah cukup banyak tampak masih berjaga-jaga di sejumlah tempat di seputar pelabuhan dan beberapa daerah lain di Sape.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © . RALEOPA_Q - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger