Rabu, 14 Desember 2011

Kebal Senjata Tajam dengan Debus Aceh


Tak seperti kebanyakan pemain daboh (debus) di Aceh yang menggunakan rebana sebagai pengiring, maka Yun Casalona memilih musik ingar bingar macam house music atau musik rock untuk mengiringi atraksinya di panggung sepanjang ia mempertontonkan keahliannya dalam seni debus ala Aceh atau biasa disebut rapa’i daboh.
Setelah merapal mantra yang berbunyi "Haram kau minum darahku, haram kau sentuh kulitku, haram kau makan dagingku. Urat kawat, tulang besi, kulit baja. Aku keluar dari rahim ibunda. Aku masuk pada kalimah la ilaha illahu", maka seketika ia tikamkan rencongnya (senjata tajam khas Aceh-Red) ke perut, paha, lengan, serta bagian tubuh lainnya.
Tak cukup dengan atraksi tersebut, lelaki itu pun menyambar leher seorang anak kecil seraya menikamkan runcing rencong di tangannya. Akibatnya..., bekas tikaman itu tak meninggalkan luka yang bisa membahayakan nyawa si anak kecil maupun Yun sendiri.
"Itulah akibat makrifat yang kita jalankan. Besi tajam bernama rencong itu, atas izin Allah, ternyata mendengar permintaan kita. Makrifat itu adalah ultimatum. Kita ulitimatum benda-benda berbahaya itu supaya tidak mencelakai kita," ujar Yun Casalona yang juga pimpinan Teater Luka Banda Aceh.
Sebagaimana galibnya seni tradisi di Tanah Air yang memiliki unsur pendukung sesuai dengan fungsi dan tugasnya, di kesenian daboh ini juga terdapat pembagian kerja sesuai bidangnya masing-masing.
Pada daboh ada pemimpin yang bertugas memimpin pertunjukan. Disusul oleh jabatan khalifah yang bertanggung jawab secara keilmuan (khalifah inilah yang akan mengobati jika peserta daboh ada yang terluka, atau menangkal ilmu-ilmu dari orang lain yang hendak berlaku jahil). Dalam bahasa yang biasa kita kenal, mereka biasanya akan berkata, "Satu guru satu ilmu, dilarang saling mengganggu."
Berikutnya adalah pemain rebana (rapa’i) dan pemain atraksi kekebalan tubuh. Para pemain rapa’i, tentu saja berfungsi mengiringi penampilan aktor yang beratraksi di panggung sambil dengan memukul rapa’i (rebana" secara berirama disertai nyanyian yang di dalamnya berisi mantra mohon kekebalan.
Antara daboh dan debus Banten
Casalona menuturkan, secara substansial seni daboh dan debus di Banten itu sama. Ujar Casalona, debus Banten itu asalnya dari Aceh juga.
Syahdan, ujar Casalona, saat Cut Nyak Dhien ditangkap Belanda dan dibawa ke Jawa Barat, pahlawan perempuan Aceh itu diiringi oleh beberapa pengawal yang memiliki kesaktian dan ilmu, di antaranya ya ilmu daboh itu.
Nah, dari para pengawal Cut Nyak Dhien itulah, tegas Casalona, seni daboh menyebar ke beberapa wilayah di Jawa Barat, termasuk Banten. Ya, pernyataan Casalona ini tentu saja masih harus dikaji lebih mendalam.
Kesenian Debus yang menitikberatkan kekebalan terhadap benda tajam, selalu menggunakan peralatan yang disebut Debus.
Ada pandangan lain yang mengatakan, debus berarti tongkat besi yang ujungnya runcing dan berhulu bundar. Dengan alat ini, peraga dilukai seperti memaku perut, tetapi tidak tembus walau hulu Debus dipukul berkali-kali.
Pemain debus dituntut beriman kuat dan menjauhi Ma-Lima. Mental harus kuat, tidak boleh ragu melaksanakan tindakan berbahaya. Dalam perkembangannya sering dikombinasi dengan seni tari, seni suara dan kebatinan. Kabupaten Serang merupakan pusat debus Provinsi Banten.
Nilai juang menonjol lewat atraksi kekebalan, seperti menusuk perut dengan tombak atau almadad tanpa luka, mengiris tubuh dengan pisau atau golok sampai luka maupun tanpa luka, makan api, memasukkan jarum kawat ke lidah, kulit, pipi sampai tembus tanpa mengeluarkan darah, mengiris anggota tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah tetapi dapat disembuhkan seketika, menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang dikenakan hancur, mengunyah kaca, bara api, membakar tubuh dan masih banyak lagi.
Sekarang, banyak pendekar debus mukim di kecamatan Walantaka, Keragilan dan Curug wilayah Serang.
Menurut sejarah, debus sebenarnya berhubungan dengan tarekat Rifa’iyah yang dibawa Nurrudin Ar-Raniry ke Aceh abad 16. Tarekat ini punya konvensi, ketika dalam kondisi epiphany, gembira karena ‘bertatap muka’ dengan Tuhan, mereka menghantamkam benda tajam ke tubuh mereka. Filosofinya, tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Jadi kalau Allah tidak mengizinkan pisau, golok, parang atau peluru sekalipun melukai mereka, maka mereka tak akan terluka.
Tarekat ini sampai ke Minang yang dikenal dengan istilah Dabuih. Entah bagaimana rinciannya, debus masuk Banten pada abad 18. Setelah menyebar, setiap daerah berhak punya debus. Maka, H Sultan Nur Alamsyah, guru besar debus lebih suka tampil sebagai Ki Ribut Santoso dengan debus Jawa Timur atau Muhammad Mudzakir yang mengembangkan Debus Mataram.

Sumber: (http://cangklak.blogspot.com)

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © . RALEOPA_Q - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger