Rabu, 14 Desember 2011

Bencana Tsunami dan Dokumen Sejarah Aceh


Oleh
Djulianto Susantio

Sejumlah dokumen sejarah dari abad XVI hingga XVIII berulang kali menyebutkan Aceh (bersama Nias) sebagai ”Kota Bencana”. Setiap tahun banjir besar, air laut pasang, dan gempa bumi silih-berganti melanda Aceh. Akibatnya, para pedagang dan pengelana asing menjuluki Aceh sebagai ”kota mati” atau ”kota menyeramkan”.
Disebutkan, banjir sering menghancurkan satu kampung sekaligus. Meski rumah dibangun di atas tiang setinggi 1,20 meter hingga 1,80 meter, banyak yang hanyut terseret air. Umumnya rumah penduduk berbahan alang-alang dan bambu. Selain itu, kebakaran sering menghancurkan rumah warga. Gempa yang terjadi dini hari 7 Maret 1621, kekuatannya sangat besar.
”Sekurangnya setiap tahun terjadi tiga-empat gempa di sana,” tulis Denys Lombard di bukunya ”Kerajaan Aceh”. Banyaknya bencana di Sumatera, juga pernah dilaporkan William Marsden dalam bukunya ”Sejarah Sumatera”. Kala itu, menurut Marsden, di Sumatera terdapat sejumlah gunung berapi yang sering mengeluarkan lava sehingga menyebabkan hutan terbakar.
Letusan-letusan gunung berapi itu mempunyai hubungan dengan gempa bumi yang sering terjadi di sana. Gempa keras dirasakan sendiri oleh Marsden pada 1770 di daerah Manna. Satu kampung musnah, rumah runtuh atau habis dimakan api, dan sejumlah orang tewas. Pada 1763 Marsden mendapat kabar seluruh penduduk satu kampung meninggal akibat gempa bumi di Nias.
Gempa abad XVIII itu relatif besar karena menurut Marsden seusai gempa, terjadi retakan tanah sepanjang seperempat mil. Banyak bagian bukit longsor. Sering gempa diiringi gelombang laut besar.

Kerajaan Cemerlang
Sumatera khususnya Aceh, juga sering dilanda surf, yakni alunan ombak tinggi dan pecah di pantai. Tinggi surf 15-20 kaki, lalu puncaknya menggantung dan kemudian jatuh seperti air terjun, hampir tegak lurus. Deru yang diakibatkan oleh hempasan itu sangat keras sehingga dapat terdengar bermil-mil di daratan dalam kesunyian malam.
Gelombang surf mungkin serupa dengan tsunami. Tenaganya sangat kuat. Ini terlihat dari perahu yang terjungkir sehingga puncak tiang layarnya menancap di pasir dan pangkalnya menembus dasar perahu.
Meskipun sering dilanda bencana, Aceh pernah menjadi kerajaan yang cemerlang dan disebut-sebut pedagang dan pengelana asing sejak abad XVI. Kemungkinan besar penyebutan pertama terdapat dalam buku ”Suma Oriental” karya Tome Pires (1520). Pengelana bangsa Portugis itu menyebutnya Achei (Achey), bahkan sering kali regno dachei (=kerajaan Aceh). Pires memberitakan Raja Aceh gemar berperang. Raja itu beragama Islam dan gagah perkasa.
Banyak pulau di dekatnya juga dikuasai raja itu. Namun Barros, meskipun juga orang Portugis, menulis Aceh dengan ejaan lain, yakni Achem, Achin, dan Atchin. Sedangkan naskah China Tong-hsi-yang-kao (1618) dan Shun-feng-hsiang-song (abad XVII) menyebutnya A-tsi, mungkin identik dengan Acih.
Nama Aceh mulai dikenal luas pada abad ke-19 setelah Snouck Hurgronye, seorang Belanda ahli agama dan kebudayaan Islam, menulis buku ”De Atjehers” (Orang-orang Atjeh). Cara menulis seperti itulah yang kemudian dipakai dalam teks-teks resmi. Nama Aceh sendiri, menurut tradisi Melayu, diambil dari sejenis pohon yang dinamakan Achi.
Karena terletak di tepi pantai, Aceh banyak didatangi bangsa asing dengan berbagai maksud: berdagang, menyampaikan upeti, hingga menyebarkan agama Islam. Sebuah naskah China dari masa 1573-1620 memberitakan, Aceh banyak mengekspor batu mulia, nila, kuda, badak, batu ambar, kayu gaharu, kayu kalambak, kayu pucuk, cengkeh, dupa, keris, busur, timah, lada, kayu sapan, dan belerang.

Kota Penelitian
Aceh sebagai kota perdagangan banyak disebutkan sumber Barat. Ini karena pelabuhan Aceh dinilai strategis dan lokasinya tidak jauh dari Selat Malaka. Ramainya perdagangan Aceh diperlihatkan oleh begitu banyaknya temuan-temuan arkeologis di sana. Mulai abad ke-19 Aceh mendapat julukan baru, yakni sebagai ”Kota Penelitian”. Banyak peneliti Barat melakukan studi di Aceh. Yang terbanyak adalah di bidang sejarah, filologi, dan arkeologi.
Dari penelitian itu, ada yang dianggap fenomenal. Misalnya penelitian oleh J.P. Moquette terhadap tulisan pada makam-makam Islam kuno. Dia menyimpulkan dua hal penting, yakni Sultan Malik as-Salih adalah pendiri kerajaan Islam (Samudra Pasai) yang pertama di Indonesia dan para pedagang Muslim yang berasal dari Gujarat (India) merupakan penyebar agama Islam yang pertama di Indonesia.
Keduanya terjadi pada abad XII (Uka Tjandrasasmita, ”Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia”). Pendapat Moquette itu masih diterima para sejarawan dan arkeolog hingga kini. Tragisnya, banyak sekali warisan kebesaran Samudra Pasai diluluhlantakkan tsunami. Akibatnya, hampir tidak ada lagi sisa-sisanya yang dapat disaksikan anak cucu kita.
Untungnya, sejumlah manuskrip kuno dan benda arkeologi pernah dibawa kabur ke mancanegara pada zaman Hindia Belanda. Jadi, hanya artefak-artefak di Belanda, Inggris, dan Prancis itulah saksi bisu bukti kebesaran Aceh. Masalah sekarang, bagaimana rekonstruksi Aceh, bukan hanya fisik tetapi juga bangunan dan peninggalan sejarah yang rusak/musnah, agar kebesaran Aceh tampak kembali, sekaligus menunjukkan potret buram bencana bersama keagungan sejarah.

sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0602/06/opi02.html

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © . RALEOPA_Q - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger